David Ganda Silalahi

let's our freedom's to be free

COMMUNITY DEVELOPMENT: ANTARA MODERNISASI DAN KEARIFAN LOKAL

Author: David Ganda Silalahi

Community development, diartikan sebagai upaya-upaya untuk memberdayakan masyarakat seperti membuka akses dan kontrol, peningkatan kapasitas dan lain sebagainya. Tujuan Community Development adalah pemberdayaan masyarakat (empowerment), yaitu bagaimana anggota masyarakat dapat mengaktualisasikan diri mereka dalam pengelolaan lingkungan yang ada disekitarnya yang tentunya dengan berlandaskan pada kearifan lokal, sehingga dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri tanpa ketergantungan dengan pihak-pihak eksternal.

Saat ini banyak sekali upaya-upaya pengembangan masyarakat yang dilakukan. Seakan-akan berlomba – lomba bahkan saling berebutan. Mulai dari pemerintah, LSM (baik nasional maupun internasional), CSO, institusi pendidikan, korporasi bahkan saat ini instansi politik seperti partai juga menjamah aspek ini. Secara kuantitas, hal ini cukup positif mengingat semakin banyak pemerhati masyarakat. Tapi dinilai dari segi kualitas, perlu untuk dikaji dan dipertanyakan lebih lanjut.

Saat ini isu “pemberdayaan masyarakat” sering sekali dijadikan sebagai media pencari keuntungan baik secara materi maupun non materi. Upaya pemberdayaan masyarakat dianggap sebagai “proyek” dengan segudang peluang keuntungan. Sebagai contoh, banyak sekali partai politik yang mengangkat isu ini sebagai bagian dari strategi politik. Terdapat juga instansi pendidikan maupun LSM yang memanfaatkan isu ini sebagai ajang untuk mencari keuntungan semata. Realita ini pada dasarnya mengorbankan masyarakat itu sendiri. Secara statistik, dianggap sudah banyak upaya pemberdayaan yang dilakukan tapi secara kualitas, sangat memprihatinkan. Belum lagi mengenai cara dan metode pelaksanaan yang seringkali tidak sesuai bahkan tidak tepat.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: Modrenisasi atau Berbasis Kearifan Lokal

Konsep pemberdayaan masyarakat sering sekali disalahartikan oleh berbagai kalangan.Pemberdayaan masyarakat dianggap sebagai upaya untuk “memodernkan” masyarakat dengan berbagai instrument pengembangan yang berujung pada upaya-upaya me-westernisasikan masyarakat. Sebagai contoh banyak sekali yang menjadikan “komputerisasi” sebagai tolak ukur pengembangan dan pemberdayaan. Atau “Gaya hidup kota” dengan penggunaan berbagai produk canggih sebagai ukuran pemberdayaan dengan menghilangkan berbagai pengetahuan ataupun cara-cara yang bersifat lokalistik. Terdapat juga yang memaksakan (mendikte) upaya pengembangan masyarakat pada bidang tertentu, yang tidak sesuaidengan karakteristik lokal.

Upaya pemberdayaan masyarakat, seharusnya dilakukan melalui cara-cara pengembangan atau pembangunan masyarakat/komuniti yang dilakukan secara sistematis, terencana yang diarahkan untukmemperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial ekonomi dan kualitas kehidupan yang lebih baik dengan mengedepankan karakteristik lokal dan kearifan lokal. Upaya ini dilakukan dengan memerankan masyarakat sebagai aktor utama. Pada dasarnya masyarakatlah yang paling mengetahui apa dan bagaimana yang terbaik bagi mereka. Disini, konsep partisipatif aktif sangatlah diperlukan sebagai instrumen dari pengembangan masyarakat.

Selain hal tersebut diatas, perlu kiranya upaya pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan tidak menghilangkan ataubahkan merusak adat istiadat setempat. Banyak sekali kasus yang terjadi, upaya-upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung justru menghilangkan kebudayaan masyarakat yang pada akhirnya menghilangkan ataupun memunahkan suku-suku di Indonesia, dimana seharusnya penting untuk kita lestarikan. Katakanlah suku Dayak, dengan kehidupan dan kebudayaan mereka, dengan upaya pengembangan masyarakat yang bersifat modrenisasi maka lambat laun suku ini akan semakin terkikis dan pada akhirnya akan punah. Sebaiknya upaya-upaya pengembangan mayarakat disinergikan dengan kondisi maupun karakteristik serta adat istiadat masyarakat.

KASUS: UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BAJAU

Suku Bajo merupakan salah satu suku air terbesar yang ada di Indonesia. Bajau merupakan suku yang dalam kesehariannya hidup dilaut yang menghabiskan hampir 90% waktunya di laut, sisanya dimanfaatkan untuk mencari kebutuhan didarat. Secara turun temurun, masyarakat Bajau sudah terbiasa hidup dengan lingkungan laut seperti guncangan-guncangan ombak. Secara sejarah, bahkan saat ini belum ada yang mengetahui asal muasal suku Bajau, karena suku ini cukup tersebar didunia seperti Indonesia, Thailand, Afrika Selatan, Vietnam dan sebagainya. Suku Bajau merupakan salah satu suku yang menghabiskan hidupnya di laut.

Saat ini, banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan untuk memberdayakan masyarakat Bajau. Upaya ini datang dari kalangan Pemerintah, Institusi Pendidikan, LSM, Korporasi dan lain sebagainya. Hanya saja model pemberdayaan seperti apakah yang tepat untuk masyarakat Bajau?

picture12Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan “men-daratkan” masyarakat suku Bajau. Mereka diupayakan untuk hidup didarat dengan memiliki rumah ataupun kebiasaan seperti masyarakat lainnya. Bahkan tidak sedikit elemen yang mendiktekan masyarakat Bajau untuk beralih profesi dari nelayan menjadi petani dengan asumsi bahwa pertanian merupakan sektor yang lebih menjanjikan. Masyarakat Bajau diarahkan bahkan dipaksa untuk mengubah sejarah dan kebiasaan hidup mereka.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah memang upaya “men-daratkan” masyarakat suku Bajau adalah upaya yang dibutuhkan dan yang terbaik? Apakah dengan mengarahkan masyarakat suku Bajau ke sektor pertanian merupakan cara yang paling tepat? Apakah model pemberdayaan tersebut tidak akan memunahkan suku Bajau?

Penting kiranya kita mensinergiskan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat yang diharapkan menciptakan pemberdayaan yang tidak menghilangkan identitas dari masyarakat itu sendiri. Sebagai salah satu contoh misalnya, untuk menyentuh aspek Kesehatan, dapat dikembangkan semacam sarana kesehatan berbasiskan perairan. Dalam artian untuk menjaring masyarakat Bajau yang hidup di perairan, dibutuhkan sarana yang berbasiskan perairan seperti “Posyandu Perahu” yang berfungsi sebagai sarana kesehatan sekaligus untuk mengkampanyekan tetang kesehatan.


picture2

Dalam aspek pendidikan misalnya, dapat dikembangkan semacam “perahu pintar” yang menyediakan sarana pendidikan dan mengkampanyekan mengenai pendidikan. Dapat juga dengan memberikan berbagai peningkatan kapasitas masyarakat suku Bajau berbasiskan perairan. Hal ini jauh lebih tepat dibandingkan dengan men-daratkan mereka. Karena kebiasaan dan habitat mereka adalah memang di laut sehingga penting untuk mensinergiskan upaya-upaya pemberdayaan yang berbasiskan perairan.


4 comments on “COMMUNITY DEVELOPMENT: ANTARA MODERNISASI DAN KEARIFAN LOKAL

  1. tijok
    Maret 10, 2009

    Vid yg bener modernisasi bukan modrenisasi…

    • david ganda silalahi
      Maret 16, 2009

      thx mas… biasalah… human eror,..

  2. deeadewie
    Maret 11, 2009

    Mendaratkan suku bajo mengingatkanku pd progrm reality show d beberapa tv swasta..terkesan mengentaskan khdpn mrk dr ksdrhanaan pdhl yg ada adlh menggiring mreka lebih konsumtif..untuk makan saja ngepas, tapi harus dtmbh lg beban membyr listrik karena adax pswt tv n berbagai alat elektronk bru laenx..

  3. deeadewie
    Maret 11, 2009

    Eh pit,ko nama gw b’ubh jd dwi lestari y.. D blogroll lo..padahl gw blm slamatan p’ubhn nama lho..hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Maret 6, 2009 by in Opini and tagged , , , .
%d blogger menyukai ini: