David Ganda Silalahi

let's our freedom's to be free

DILEMA CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

Antara Pemahaman & Implementasi

Oleh : David G Silalahi


csrCorporate Social Responsibility (CSR) diartikan sebagai suatu komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan tersebut, berikut masyarakat setempat (lokal) dan masyarakat secara keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan (World Business Council for Sustainable Development) Sementara itu, Laurel Grossman, Reputex, menngartikan konsep CSR sebagai alat untuk menciptakan nilai-nilai hubungan kemitraan bisnis yg baik dengan para stakeholders dan sekaligus pada saat yang sama mendorong penciptaan nilai-nilai sosial kemasyarakatan dan lingkungan.

Pada dasarnya CSR merupakan bagian dari bentuk long term commitment korpoorasi terhadap perbaikan kualitas hidup lingkungannya baik internal (shareholders dan karyawan) maupun eksternal. CSR juga merupakan salah satu cara dalam mendapatkan “ijin” sosial bagi kegiatan operasional perusahaan dari masyarakat sekitar. CSR seharusnya juga menjadi bagian dari strategi bisnis dalam upaya menambah nilai positif perusahaan di mata publik yakni membangun image/citra perusahaan. Meskipun begitu, selama ini beragam pelaksanaan CSR dilapangan yang sangat bergantung bagaiamana ekskutif perusahaan memandang strategis CSR bagi keberlangsungan usahanya. Artinya bentuk, pengelolaan dan pendanaan CSR bersifat sukarela dari perusahaan.

Menjadi kontroversi ketika akhirnya Corporate Social Responsibility (CSR) diatur secara hukum dalam Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas (UU PT). Dalam UU tersebut (pasal 74) disebutkan bahwa adanya kewajiban pelaksanaan CSR yang ditujukan ke perseroan yang kegiatan usahanya di bidang sumber daya alam (SDA) atau yang berkaitan dengan itu. Hal ini tertuang secara khusus pada pasal 74 yang berisikan tentang :

· Ayat 1, dijelaskan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan.

· Ayat 2 dijelaskan bahwa tanggung jawab sosial dan lingkungan itu merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memerhatikan kepatutan dan kewajaran.

· Ayat 3 menggariskan perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana Pasal 1 dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

· Ayat 4 menyatakan ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab dan lingkungan diatur dengan peraturan pemerintah.

Pengaturan ini tentu saja bertolak belakang dengan makna filosofi CSR itu sendiri, dimana disatu sisi CSR adalah wujud tanggung jawab social yang dilakukan berdasarkan itikad baik dan bukan kewajiban ataupun keharusan, sementara disisi lain CSR dibakukan melalui undang-undang yang tentunya mewajibkan dan dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi yang tidak melaksanakannya.

Banyak dampak yang timbul sebagai akibat dari regulasi ini. Salah satunya adalah beban korporasi yang bertambah lagi dalam “insentif”. Padahal, pada dasarnya korporasi-korporasi juga sudah mengeluarkan “insentif” berupa pajak, royalti dan sebagainya. Regulasi ini juga dikhawatirkan akan mengakibatkan, menurunkan daya saing, menghambat iklim investasi di dalam negeri, memincu hekangnya para pemodal dari Indonesia. Selain itu, industri-industri pada skala menengah dan kecil juga merasakan penambahan beban yang cukup signifikan. Industri ini (termasuk yang harus melakukan UU PT) dapat dikatakan masih bertahan dalam persaingan ekonomi, apalagi dibebani lagi dengan kewajiban melaksanakan tanggungjawab sosial.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah penyusunan UU Perseroan Terbatas ini dilakukan sudah mempertimbangkan segala impact yang akan terjadi? Apakah UU PT ini sudah mengakomodasi aspirasi industri-industri menengah dan kecil? Apakah juga sudah melalui pemahaman konsep CSR yang sesungguhnya? Apakah UU PT ini justru akan menimbulkan pertentangan antar industri maupun industri dengan investor? Apakah UU PT ini tidak tumpang tindih dengan peraturan lainnya seperti PKBL, lingkungan, penanaman modal? Bagaimana dengan kehadiran ISO 26000 yang akan selesai pada 2009?

Penting kiranya bagi kita untuk memahami dan mengartikannya terlebih dahulu secara komperhensif dan berimbang dengan pelibatan seluruh stakeholders terkait sehingga sebelum disahkan sebagai undang undang, persoalan-persoalan tersebut diatas sudah terselesaikan.

5 comments on “DILEMA CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY

  1. cafestudi061
    Januari 8, 2009

    Salam kenal buat Bang Ganda atau lengkapnya David Ganda Silalahi. Info dan pengertian serta penerapan isi yang abang sampaikan ipada opini ini yang akan menciptakan kesejahteraan untuk semua.
    Selamat bang sukses selalu kiranya menyertai abang dan keluarga. Maaf kalau saya panggil abang, atau Lae aja boleh nggak.
    O, ya saya minta artikel ini untuk di postingkan di cafestudi061, untuk share ke teman-teman pembaca lainnya jika mampir diblog saya.
    Sekali lagi selamat dan sukses buat abang/lae.

    Salam,

    smskalit

    • david ganda silalahi
      Januari 8, 2009

      salam kenal juga….
      trimakasih juga sudah mampir….
      ini hanya, sekelumit pemikiran yang mudah-mudahan dapat memberikan penyegaran bagi kita…
      silahkan di posting….saya kira, baik adanya jika tulisan ini di share ke rekan-rekan sekalian… sekaligus membuka berbagai diskusi…

      warm regard

  2. Rohani simbolon
    Januari 12, 2009

    met siang ito,
    met kenal ya,,
    info dan penerangan tentang comdev nya sangat membantu saya,,
    kebetulan saya sekarang sedang berkarya disalah satu perusahaan tambang swasta, saya menempati posisi sebagai Comdev Officer,,
    banyak yang belum saya ketahui mengingat latar belakang pendidikan saya dari tehnik pertambangan,,
    saya hanya punya sedikit keahlian berkomunikasi yang baik dengan masyarakat sekitar tambang
    tetapi tehnis nya masih banyak saya belum mengerti,,
    kalau boleh saya mau beli buku tentang metode dan tehnik pengeloaanya, kira-kira harganya berapa ya?
    saya juga perlu buku tentang penyusunan anggaran program,,
    please ito..

    • david ganda silalahi
      Januari 15, 2009

      salam kenal jg ito….
      memang terdapat berbagai keahlian khusus yang memang salah satunya adalah keahlian komunikasi dengan masyarakat sebagai bagain dalam pendekatan dengan masyarakat..
      hal-hal ini, memang dibahas dalam buku “metode dan teknik community development”
      ito, bisa dapatkan di Gramedia ataupun dapat langsung ke kantor, atau bisa juga minta dikirimkan..
      Ada juga berbagai buku terkait lainnya, yang mungkin dibutuhkan sebagai referensi..
      Untuk info lebih lanjut bisa hubungi :
      Hadijah Nasution
      Indonesia Center for Sustainable Development
      Jl. Mampang Prapatan VIII, Kompleks Bappenas No.58
      Jakarta Selatan
      Tlp. (021) 7989548 / (021) 70627506

      Warm Regard

  3. AgniE
    Januari 21, 2009

    Well…
    MosTLy,, we Talk abouT CSR…
    Now iT’s Time to acT mr. daV….
    ImplemenTasi giTuh….

    We knoW we can….!!!!
    iya kan…??
    hahaha….

    sMangaT…!!!!
    -cHeeR-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 5, 2008 by in Opini and tagged , , , .
%d blogger menyukai ini: