Oleh: david ganda silalahi | Januari 30, 2010

Jasa konsultasi pajak

- Menerima jasa konsultasi dan pengurusan pajak PPN, PPh, SPT Masa (Bulanan), SPT Tahunan, NPWP, PKP, dll

- Acct Software, Laporan Keuangan, Tenaga Accounting, dll

- Penyampaian Laporan Pajak (PPh21, PPh25, PPN)

- Penyampaian Laporan Keuangan, System Akuntansi, Audit

Hubungi:

Raja Hugo

Hp : 085880481143
Email : rajahugo99@yahoo.com

Oleh: david ganda silalahi | Oktober 26, 2009

PUBLIC ENEMIES

“goodbye Blackbird”


public_enemiesFilm ini dimulai pada tahun 1933 ketika John Dillinger (Johnny Depp) dibawa ke Penjara Negara Bagian Indiana oleh mitranya John “Red” Hamilton (Jason Clarke), yang menyamar sebagai seorang petugas pengirim tahanan. Dillinger dan Hamilton berhasil menyergap beberapa penjaga dan membebaskan anggota komplotan mereka termasuk Charles Makley (Christian Stolte) dan Harry Pierpont (David Wenham). Penjebolan penjara ini hampir-hampir berhasil tanpa rintangan, sampai salah satu anggota komplotan, Ed Shouse (Michael Vieau), memukul seorang penjaga sampai mati. Baku tembak terjadi ketika komplotan itu melarikan diri. Kawan dan mentor Dillinger, Walter Dietrich (James Russo) terbunuh, dan Dillinger yang murka menendang Shouse keluar dari mobil. Komplotan yang tersisa melarikan diri ke sebuah rumah pertanian, di mana seorang polisi East Chicago, Indiana yang korup, Martin Zarkovich (John Michael Bolger), membujuk mereka untuk bersembunyi saja di Chicago, dan berlindung di bawah Mafia.

Di East Liverpool, Ohio, Melvin Purvis) (Christian Bale) dan beberapa agen FBI lainnya mengejar Pretty Boy Floyd (Channing Tatum). Purvis membunuh Floyd dan dipromosikan oleh J. Edgar Hoover (Billy Crudup), yang sedang berjuang untuk mengembangkan Bironya menjadi sebuah agensi polisi nasional, sebagai pemimpin tim pemburuan John Dillinger, dan mengumumkan “Perang terhadap Kejahatan” pertama kalinya secara nasional.

Dalam sebuah rentetan perampokan bank, Dillinger bertemu dengan Billie Frechette (Marion Cotillard), yang ditaksirnya, di sebuah restoran, dan berusaha merayunya dengan membelikannya sebuah mantel bulu binatang. Frechette jatuh hati kepada Dillinger, sekalipun Dillinger telah memberitahunya mengenai siapa dia sesungguhnya, dan keduanya dengan segera tak terpisahkan lagi.

Melvin Purvis memimpin sebuah penyergapan ke sebuah hotel yang dikiranya didiami oleh Dillinger, namun penyergapan itu gagal. Seorang agen ditembak dan terbunuh oleh seorang penghuni. Setelah mereka melarikan diri, Dillinger menyadari bahwa pembunuh itu bukanlah Dillinger, tetapi Baby Face Nelson (Stephen Graham). Setelah insiden ini, Purvis meminta Hoover untuk membawa para penegak hukum yang tahu bagaimana menangkap para penjahat hidup atau mati, termasuk “koboi” Texas, Charles Winstead (Stephen Lang).

Polisi akhirnya menemukan Dillinger dan menahannya beserta komplotannya di Tucson. Purvis tiba malam itu dan berbicara singkat dengan Dillinger; Dillinger berusaha untuk membingungkan Purvis dengan membicarakan mengenai agen yang dibunuh oleh Nelson. Dillinger diserahkan kembali ke Indiana, dan ditahan di sana untuk menunggu pengadilan. Dillinger dan beberapa tahanan berhasil melarikan diri. Dillinger tidak dapat menemui Frechette yang diawasi secara ketat. Dillinger kemudian mengetahui bahwa kelompok mafia Chicago Outfit di bawah Frank Nitti (Bill Camp) sudah tidak mau lagi membantunya. Kejahatan Dillinger telah menyebabkan pemerintahan Amerika Serika untuk mulai mengusut kejahatan lintas negara bagian, dan mulai mambahayakan bagi usaha perjudian Nitti yang menguntungkan.

Belakangan, Dillinger bertemu dengan rekannya sesama perampok bank Tommy Carroll (Spencer Garrett) di sebuah bioskop film; yang sedang bersama-sama Ed Shouse, yang mau untuk bergabung kembali dengan komplotannya. Carroll mendorong Dillinger untuk merampok bank di Sioux Falls, dan menjanjikan bagian besar. Walau Baby Face Nelson, yang tidak disukainya, turut juga dalam perampokan ini, Dillinger setuju untuk ikut. Baku tembak (yang dipicu akibat Nelson menembak seorang polisi di luar bank) terjadi dan Dillinger tertembak di tangan. Carrol juga tertembak dan ditinggalkan karena sekarat. Mereka mundur ke pondok Nelson yang tersembunyi di tengah hutan di Little Bohemia. Di tempat itu luka-luka Dillinger diobati. Komplotan itu kecewa karena hasil rampokan mereka hanya sebagian kecil saja dari harapan. Dillinger mengharapkan untuk dapat membebaskan sisa komplotan mereka yang masih di penjara, termasuk Pierpont dan Makley, tapi Red meyakinkan dia bahwa hal itu hampir tidak memungkinkan.

public_enemies01Purvis dan para anggotanya menahan Carroll (yang masih hidup) dan menyiksanya untuk mengetahui di mana tempat komplotan itu bersembunyi. Mereka tiba di Little Bohemia dan lagi-lagi penyergapan itu gagal, sementara beberapa orang sipil tewas dalam baku tembak. Dillinger dan Red terpisah ketika menyelamatkan diri dari Nelson dan seluruh komplotannya. Agen Winstead dan Hurt (Don Frye) berlari mengejar Dillinger dan Hamilton di tengah pepohonan, dan turut dalam baku tembak itu. Red tertembak dan terluka parah. Dalam usaha untuk melarikan diri, Nelson, Shouse, dan Homer Van Meter (Stephen Dorff) membajak sebuah mobil FBI, membunuh beberapa agen, termasuk mitra Purvis, Carter Baum (Rory Cochrane). Setelah pengejaran dengan mobil, Purvis dan anggotanya berhasil membunuh Nelson dan sisa komplotannya. Sementara itu, Dillinger dan Hamilton mencuri mobil seorang petani dan berhasil melarikan diri. Hamilton tewas malam itu dan Dillinger menguburkannya dan menyembunyikannya di bawah bahan kimia.

Dillinger berhasil menemui Billie, memberitahukan rencana-rencananya untuk melakukan perampokan terakhir yang akan dapat membiayai mereka untuk melarikan diri bersama. Dillinger mengantarnya ke sebuah hotel yang dikiranya aman, namun ia tak berdaya ketika melihat Billie ditangkap FBI. Seorang interogator yang kasar, Agen Harold Reinecke (Adam Mucci), memukuli Billie dengan ganas untuk mengetahui keberadaan Dillinger, tapi Billie menolak berbicara. Purvis dan Winstead tiba dan dengan marah menghentikan interogasi yang kejam itu. Sementara itu, Dillinger bertemu dengan Alvin Karpis (Giovanni Ribisi), yang ingin merekrut Dillinger ke dalam komplotannya, Barker Gang, untuk merampok kereta api, namun Dillinger tidak tertarik. Dillinger menerima sebuah surat dari Billie melalu pengacaranya, Louis Piquet (Peter Gerety), yang memberitahunya agar tidak berusaha melepaskan Billie dari penjara.

Melalui si polisi korup Zarkovich, Purvis mendapat bantuan seorang mucikari sekaligus kenalan Dillinger, Anna Sage (Branka Katic), setelah mengancamnya dengan deportasi jika Sage tidak mau bekerja sama. Sage setuju untuk menjebak Dillinger, yang saat itu sedang bersembunyi di tempat Sage.

Malam itu, Dillinger dan Sage menonton sebuah film yang diperankan oleh Clark Gable berjudul Manhattan Melodrama di Biograph Theater. Ketika film usai, Dillinger dan Sage pergi dari bioskop itu dan Purvis mendekati mereka. Dillinger menyadari ada polisi (yaitu Reinecke, yang memukuli kekasih Dillinger) dan tertembak beberapa kali sebelum ia dapat mengambil senjatanya untuk melawan Reinecke yang melukai Billie. Agen Winstead, yang menembakkan tembakan terakhir yang fatal, mendengarkan kata-kata terakhir Dillinger.

Oleh: david ganda silalahi | Oktober 26, 2009

Surveillance

“TRUTH IS ILLUSION, SAFETY IS DECEPTION, TRUST IS PREDITION”

WELCOME TO VICIOUS WORLD

surveillance

An FBI agent on the trail of a serial killer attempts to capture the madman with a little assistance from his would-be victims in director Jennifer Chambers Lynch’s supernatural police thriller. FBI agents Elizabeth Anderson (Julia Ormond) and Sam Hallaway (Bill Pullman) are on the trail of some killers when they arrive in a small desert town to investigate a vicious mass shooting on the highway. The witnesses are an overzealous cop, an unreliable junkie, and an eight-year-old girl. For some reason agents Anderson and Hallaway can’t comprehend, the pieces of the puzzle just don’t seem to fit together. Later, when the minute details concealed by each witness finally start coming into focus, the two agents discover that sometimes the truth comes at a very substantial cost. ~ Jason Buchanan, All Movie Guide

Oleh: david ganda silalahi | Oktober 13, 2009

If Only

400px-If_Only_movie_posterHE LOVED HER LIKE THERE WAS NO TOMMOROW

Ian Wyndham (Nicholls) is a British Businessman who lives with his musician girlfriend, Samantha Andrews (Hewitt) in London. Ian takes Sam for granted making Sam feeling vulnerable in the role of the one who loves more. The first half of the film describes a single day which culminates in a row in which Samantha’s frustration boils over. The taxi Samantha catches is hit by another car in front of Ian and she dies. An inconsolable Ian goes back to bed alone only to wake up at the start of the same day and Sam still alive suggesting that it had all been a dream. At that point, he comes to realize that he had been taking Samantha for granted; and as he comes to relive the same day, Ian is then given a second chance to correct his mistakes. He does his best to get it right the second time around and in the end, becomes the victim of the accident in his girlfriend’s stead, as he holds her tight for the last time.

Oleh: david ganda silalahi | Agustus 26, 2009

Keangkuhan Pantai Toronipa

Picture1

Picture2

Keindahan identik dengan kemegahan…

Berbeda dengan keindahan yang satu ini…

Keindahan pantai Toronipa seakan menunjukkan keangkuhan dan kesombongan…

Keangkuhan akan nuansa yang dimiliki…

Keangkuhan akan kecantikan yang tidak dimiliki oleh pantai-pantai lain…

Kesombongan yang ingin dituangkan dalam senja yang sexy…

Pantas, kalau keindahannya menjadi bahan untuk kesombongannya…

Oleh: david ganda silalahi | Agustus 25, 2009

ANGELS & DEMONS

Angels_and_demons-ImpawardsSaat Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (Tom Hanks).

Langdon yang semula tak percaya bahwa persaudaraan Illuminati ini masih ada mau tak mau harus menerima kenyataan karena tak ada orang yang sanggup membuat tanda ambigram sempurna yang menjadi simbol Illuminati kecuali dari persaudaraan rahasia ini sendiri.

Petualangan kemudian membawa Langdon dan Vittoria Vetra (Ayelet Zurer) yang ingin mengetahui pembunuh ayahnya ke Vatican di mana persaudaraan Illuminati mengancam akan meledakkan kota suci ini dan membunuh semua orang di dalamnya. Satu-satunya cara melacak si pembunuh adalah dengan mengikuti tanda-tanda yang ditinggalkan sang anggota Illuminati dengan harapan dapat mencegah pembunuhan massal ini.

Sayangnya sang pembunuh hanya meninggalkan petunjuk di atas mayat para Kardinal yang telah ia bunuh satu per satu. Kini Langdon dan Vetra harus berpacu untuk mendahului sang pembunuh atau semua Kardinal yang diculik mati dan tak ada petunjuk mengenai lokasi peledak yang dipasang persaudaraan Illuminati ini.

Seperti kebanyakan film yang diadaptasi dari novel, penyesuaian mesti dilakukan karena keterbatasan durasi tayang dan lain sebagainya. Ini yang sering kali membuat para fans novel merasa kecewa dengan visualisasi dari tulisan yang sempat mereka baca sebelumnya. Film berjudul ANGELS AND DEMONS ini juga bukan pengecualian. Bila Anda sempat membaca novelnya, Anda pasti tahu bahwa ada beberapa fakta atau detail yang harus ‘disesuaikan’. Terlepas dari segala ‘penyesuaian’ itu, film adalah sebuah karya yang layak dinilai sebagai dirinya sendiri.

Sebagai sebuah film, ANGELS AND DEMONS ini cukup mampu membawa inti permasalahan dari novel Dan Brown ke dalam bentuk visual. Ron Howard, sang sutradara sanggup membuat sebuah film yang cukup berimbang dan tak memihak mana pun. Agama dan ilmu pengetahuan dapat berjalan beriringan selama ada saling pengertian dan toleransi.

angelsKarena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas. Ron Howard sepertinya juga tak mau mengulang kesalahan yang terjadi pada THE DA VINCI CODE dan menghilangkan unsur romantis yang sebelumnya sempat dikritik karena tak ada chemistry antara Tom Hanks dan lawan mainnya.

Tampilan visual dari Sistine Chapel, Pantheon, Gereja dan Makam terlihat sangat mengagumkan meski Howard harus melakukan pengambilan gambar bukan di tempat aslinya. Sebuah tontonan yang menarik selama Anda tak membanding-bandingkannya dengan versi novelnya. (Fatchur Rochim/kpl/roc)

Oleh: david ganda silalahi | April 21, 2009

CATATAN DARI BAWAH TANAH

nofuBuku ini merupakan karya sastra yang menjadi cerminan problematika masyarakat. Buku ini memiliki daya hipnotis yang akan menggiring kita masuk pada dunia Fyodor Dostoyevsky. Pemaparan dalam buku ini juga cukup berani dan lantang dalam melagukan kalimat sehingga memperoleh predikat karya terbaik untuk karya eksistensialisme yang pernah ditulis. Dengan mengemukakan sosok tokoh yang dalam keadaan yang putus asa dan pikiran yang sangat ekstrem, dimana menyatakan keberjarakannya pada para kaum utopis radikal (sosialis dan komunis) yang ingin mengakhiri perbudakan dan korupsi untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik. Buku ini mengkritik kegemaran manusia pada sistem dan deduksi abstrak. Kegemaran itu begitu kuat pada diri manusia Rusia masa itu sehingga manusia siap mengubah kebenaran ataupun mengingkari bukti yang masuk akal hanya untuk membenarkan logikanya. Bahkan, ketakutan bahwa projek pembangunan ekonomi Barat tidak hanya menindas kebebasan atas nama akal dan kemajuan, tetapi juga mengakhiri sejarah keberadaan manusia. Buku ini menjadi sangat layak untuk dibaca, mengingat karya ini memberikan pemaknaan dan pemahaman yang luar biasa tentang psikologi manusia serta analisis yang mendalam mengenai keadaan politik, sosial, dan spiritual.

Biografi

dostoevsky_1872Fyodor adalah anak kedua dari tujuh bersaudara yang dilahirkan dari Mikhail dan Maria Dostoyevsky. Tak lama setelah ibunya meninggal karena tuberkulosis pada 1837, ia dan saudaranya Mikhail dikirim ke Akademi Teknik Militer di St. Petersburg. Ayah mereka, seorang ahli bedah militer yang sudah pensiun, yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Mariinsky untuk orang-orang miskin di Moskwa, meinggal pada 1839. Meskipun tidak diketahui sebabnya, orang yakin bahwa Mikhail Dostoyevsky dibunuh oleh petani-petaninya sendiri, yang konon menjadi marah ketika Mikhail mabuk dan kemudian melakukan kekerasan. Dostoyevsky dikirim ke Akademi Teknik Militer St. Petersburg dan karena ia tidak begitu pandai dalam matematika, mata pelajaran yang dibencinya, ia pun tidak berhasil baik di sekolah itu. Sebaliknya, ia lebih memusatkan perhatian pada sastra. Tokoh pujaannya adalah Honore de Balzac dan pada 1843 ia bahkan menerjemahkan salah satu karya terbesar Balzac, Eugenie Grandet ke dalam bahasa Rusia. Sekitar waktu ini Dostoyevsky mulai menulis fiksinya sendiri dan pada 1846, karyanya yang pertama, sebuah novel pendek dalam bentuk surat, Orang-orang Miskin, mendapatkan sambutan hangat, khususnya oleh kritikus liberal, Vissarion Belinsky, dengan pujiannya yang termasyhur, “Seorang Gogol yang baru telah muncul!” Dostoyevsky ditangkap dan ditahan pada 23 April 1849 karena terlibat dalam kegiatan revolusioner melawan Tsar Nikolai I. Pada 16 November tahun itu ia dijatuhi hukuman mati karena kegiatan anti pemerintahan yang terkait dengan sebuah kelompok intelektual liberal, Lingkaran Petrashevsky. Setelah sebuah pura-pura dihukum mati — matanya ditutup dan ia diperintahkan berdiri di luar di udara dingin sambil menunggu untuk ditembak mati oleh sebuah regu tembak, hukuman Dostoyevsky diubah menjadi beberapa tahun dikirim ke pembuangan untuk bekerja paksa di sebuah kamp penjara katorga di Omsk, Siberia. Epilepsinya yang telah lama diidapnya, kian meningkat selama masa ini. Ia dibebaskan dari penjara pada 1854, dan diwajibkan melayani di Resimen Siberia. Dostoyevsky menghabisi lima tahun berikutnya sebagai seorang kopral (dan belakangan letnan) di dalam Barisan Batalyon Resimen ke-7 yang ditempatkan di benteng Semipalatinsk di Kazakhstan. Ini adalah titik balik dalam kehidupan pengarang ini. Dostoyevsky meninggalkan gagasan-gagasan idealnya semula dan menjadi seorang Kristen dan penentang keras nihilisme dan sosialisme ateis. Ia belakangan menjalin persahabatan yang aneh dengan pengarang konservatif, Konstantin Pobedonostsev. Ia mulai menjalin hubungan, dan belakangan menikah dengan Maria Dmitrievna Isaeva, janda seornag kenalannya di Siberia. Pada 1860, ia kembali ke St. Petersburg, dan di sana ia menulis sejumlah jurnal sastra yang gagal dengan kakaknya, Mikhail. Dostoyevsky sangat terpukul oleh kematian istrinya pada 1864, diikuti tak lama kemudian oleh kematian saudaranya. Dari segi keuangan ia menjadi lumpuh karena utang bisnisnya dan keharusan membiayai janda kakaknya serta anak-anaknya. Dostoyevsky tenggelam dalam suatu depresi yang mendalam, seringkali mengunjungi tempat judi dan terus-menerus kalah. Dalam tahun-tahun terakhirnya, Fyodor Dostoyevsky tinggal lama di resor Staraya Russa yang lebih dekat ke St Petersburg dan lebih murah daripada resor-resor Jerman. Ia meninggal pada 28 Januari (O.S.), 1881 karena pendarahan paru-paru yang disebabkan oleh serangan epilepsi. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Tikhvin di Biara Alexander Nevsky, St. Petersburg, Russia. Empat puluh ribu orang Rusia meratapi dan menghadiri penguburannya.

Oleh: david ganda silalahi | Maret 6, 2009

COMMUNITY DEVELOPMENT: ANTARA MODERNISASI DAN KEARIFAN LOKAL

Oleh:

David Ganda Silalahi


C

ommunity development, diartikan sebagai upaya-upaya untuk memberdayakan masyarakat seperti membuka akses dan kontrol, peningkatan kapasitas dan lain sebagainya. Tujuan Community Development adalah pemberdayaan masyarakat (empowerment), yaitu bagaimana anggota masyarakat dapat mengaktualisasikan diri mereka dalam pengelolaan lingkungan yang ada disekitarnya yang tentunya dengan berlandaskan pada kearifan lokal, sehingga dapat memenuhi kebutuhannya secara mandiri tanpa ketergantungan dengan pihak-pihak eksternal.

Saat ini banyak sekali upaya-upaya pengembangan masyarakat yang dilakukan. Seakan-akan berlomba – lomba bahkan saling berebutan. Mulai dari pemerintah, LSM (baik nasional maupun internasional), CSO, institusi pendidikan, korporasi bahkan saat ini instansi politik seperti partai juga menjamah aspek ini. Secara kuantitas, hal ini cukup positif mengingat semakin banyak pemerhati masyarakat. Tapi dinilai dari segi kualitas, perlu untuk dikaji dan dipertanyakan lebih lanjut.

Saat ini isu “pemberdayaan masyarakat” sering sekali dijadikan sebagai media pencari keuntungan baik secara materi maupun non materi. Upaya pemberdayaan masyarakat dianggap sebagai “proyek” dengan segudang peluang keuntungan. Sebagai contoh, banyak sekali partai politik yang mengangkat isu ini sebagai bagian dari strategi politik. Terdapat juga instansi pendidikan maupun LSM yang memanfaatkan isu ini sebagai ajang untuk mencari keuntungan semata. Realita ini pada dasarnya mengorbankan masyarakat itu sendiri. Secara statistik, dianggap sudah banyak upaya pemberdayaan yang dilakukan tapi secara kualitas, sangat memprihatinkan. Belum lagi mengenai cara dan metode pelaksanaan yang seringkali tidak sesuai bahkan tidak tepat.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: Modrenisasi atau Berbasis Kearifan Lokal

K

onsep pemberdayaan masyarakat sering sekali disalahartikan oleh berbagai kalangan. Pemberdayaan masyarakat dianggap sebagai upaya untuk “memodernkan” masyarakat dengan berbagai instrument pengembangan yang berujung pada upaya-upaya me-westernisasikan masyarakat. Sebagai contoh banyak sekali yang menjadikan “komputerisasi” sebagai tolak ukur pengembangan dan pemberdayaan. Atau “Gaya hidup kota” dengan penggunaan berbagai produk canggih sebagai ukuran pemberdayaan dengan menghilangkan berbagai pengetahuan ataupun cara-cara yang bersifat lokalistik. Terdapat juga yang memaksakan (mendikte) upaya pengembangan masyarakat pada bidang tertentu, yang tidak sesuaidengan karakteristik lokal.

Upaya pemberdayaan masyarakat, seharusnya dilakukan melalui cara-cara pengembangan atau pembangunan masyarakat/komuniti yang dilakukan secara sistematis, terencana yang diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial ekonomi dan kualitas kehidupan yang lebih baik dengan mengedepankan karakteristik lokal dan kearifan lokal. Upaya ini dilakukan dengan memerankan masyarakat sebagai aktor utama. Pada dasarnya masyarakatlah yang paling mengetahui apa dan bagaimana yang terbaik bagi mereka. Disini, konsep partisipatif aktif sangatlah diperlukan sebagai instrumen dari pengembangan masyarakat.

Selain hal tersebut diatas, perlu kiranya upaya pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan tidak menghilangkan ataubahkan merusak adat istiadat setempat. Banyak sekali kasus yang terjadi, upaya-upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung justru menghilangkan kebudayaan masyarakat yang pada akhirnya menghilangkan ataupun memunahkan suku-suku di Indonesia, dimana seharusnya penting untuk kita lestarikan. Katakanlah suku Dayak, dengan kehidupan dan kebudayaan mereka, dengan upaya pengembangan masyarakat yang bersifat modrenisasi maka lambat laun suku ini akan semakin terkikis dan pada akhirnya akan punah. Sebaiknya upaya-upaya pengembangan mayarakat disinergikan dengan kondisi maupun karakteristik serta adat istiadat masyarakat.

KASUS: UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BAJAU

S

uku Bajo merupakan salah satu suku air terbesar yang ada di Indonesia. Bajau merupakan suku yang dalam kesehariannya hidup dilaut yang menghabiskan hampir 90% waktunya di laut, sisanya dimanfaatkan untuk mencari kebutuhan didarat. Secara turun temurun, masyarakat Bajau sudah terbiasa hidup dengan lingkungan laut seperti guncangan-guncangan ombak. Secara sejarah, bahkan saat ini belum ada yang mengetahui asal muasal suku Bajau, karena suku ini cukup tersebar didunia seperti Indonesia, Thailand, Afrika Selatan, Vietnam dan sebagainya. Suku Bajau merupakan salah satu suku yang menghabiskan hidupnya di laut.

Saat ini, banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan untuk memberdayakan masyarakat Bajau. Upaya ini datang dari kalangan Pemerintah, Institusi Pendidikan, LSM, Korporasi dan lain sebagainya. Hanya saja model pemberdayaan seperti apakah yang tepat untuk masyarakat Bajau?

picture12Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan “men-daratkan” masyarakat suku Bajau. Mereka diupayakan untuk hidup didarat dengan memiliki rumah ataupun kebiasaan seperti masyarakat lainnya. Bahkan tidak sedikit elemen yang mendiktekan masyarakat Bajau untuk beralih profesi dari nelayan menjadi petani dengan asumsi bahwa pertanian merupakan sektor yang lebih menjanjikan. Masyarakat Bajau diarahkan bahkan dipaksa untuk mengubah sejarah dan kebiasaan hidup mereka.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah memang upaya “men-daratkan” masyarakat suku Bajau adalah upaya yang dibutuhkan dan yang terbaik? Apakah dengan mengarahkan masyarakat suku Bajau ke sektor pertanian merupakan cara yang paling tepat? Apakah model pemberdayaan tersebut tidak akan memunahkan suku Bajau?

Penting kiranya kita mensinergiskan berbagai upaya pemberdayaan masyarakat yang diharapkan menciptakan pemberdayaan yang tidak menghilangkan identitas dari masyarakat itu sendiri. Sebagai salah satu contoh misalnya, untuk menyentuh aspek Kesehatan, dapat dikembangkan semacam sarana kesehatan berbasiskan perairan. Dalam artian untuk menjaring masyarakat Bajau yang hidup di perairan, dibutuhkan sarana yang berbasiskan perairan seperti “Posyandu Perahu” yang berfungsi sebagai sarana kesehatan sekaligus untuk mengkampanyekan tetang kesehatan.


picture2

Dalam aspek pendidikan misalnya, dapat dikembangkan semacam “perahu pintar” yang menyediakan sarana pendidikan dan mengkampanyekan mengenai pendidikan. Dapat juga dengan memberikan berbagai peningkatan kapasitas masyarakat suku Bajau berbasiskan perairan. Hal ini jauh lebih tepat dibandingkan dengan men-daratkan mereka. Karena kebiasaan dan habitat mereka adalah memang di laut sehingga penting untuk mensinergiskan upaya-upaya pemberdayaan yang berbasiskan perairan.


Oleh: david ganda silalahi | Januari 29, 2009

YAKUZA MOON : Memoar tentang putri seorang Yakuza

yakuzamoon_lgTerlahir sebagai sorang putri Yakuza merupakan suatu kenyataan yang berbalut pahit dan manis. Shoko Tendo, harus mengalami berbagai pergulatan dalam kehidupan sosialnya. Berawal dari ketidakterimaan linggkungan social terhadap keberadaannya, Shoko Tendo akhirnya menjerumuskan diri pada dunia “hitam”. Apa pun yang menjadi piihannya, dilakukan karna ia menyukainya dan merasakan ada kenyamanan serta kedamaian.

Melewati masa remaja sebagai “yanki” (sebutan untuk anak liar yang mengecat putih rambutnya dan kebut-kebutan mobil atau motor dengan kenalpot tanpa suara) merupakan keinginan Shoko yang sekaligus menjerumuskannya pada dunia lainnya. Shoko menjadi “yanki” pada usia 12 tahun dengan cirri khas menghirup “thiner”. Pengukuhan identitas diri ini pada dasarnya adalah untuk memperoleh rasa aman dan nyaman pada suatu komunitas tertentu. Melalui pengukuhan identitas inilah, Shoko akhirnya mengenal dunia kekerasan, sex dan narkoba. Hampir setiap hari dilewati bersama komunitas ini, yang bagi Shoko sendiri merupakan suatu tempat pelarian dari keluarganya yang selalu dirundung masalah.

Meskipun di cap sebagai “sampah” sosok Shoko merupakan karakter yang cukup keras dan egois. Merasa bosan dengan dunia “yanki”, Shoko menjajaki dunia “perhostesan”. Hari demi hari dilewati menjadi “perempuan” simpanan diri dari pria satu ke pria lainnya. Lama kelaman seiring dengan waktu, akhirnya Shoko menikmatinya, bahkan ketagihan. Terkadang Shoko sendiri terjebak dalam perasaan hati yang tidak bisa dipungkiri akan terlibat juga. Pada dasarnya sangatlah berat mencintai seseorang yang tidak akan bisa dimiliki. Kehidupan cintanya kerap kali diwarnai dengan berbagai kekerasan. Shoko bahkan sudah sangat terbiasa dengan berbagai pemukulan yang sering sekali mengakibatkan dirinya harus dirawat di rumah sakit. Tapi kekerasan inilah yang justru memunculkan sosok Shoko menjadi “perempuan tangguh”. Shoko menjadi sosok yang seakan-akan tidak memiliki hati dan rasa sakit.

Waktu kewaktu terlewati dari pria satu kepria lainnya, dari thiner ke bubuk putih. Seakan menemukan jati dirinya, semua itu memberikan berbagai pemahaman dan penyadaran. Shoko seakan-akan menemukan “ilmu kehidupan” dari apa yang dialaminya. Memang, pengalaman adalah guru yang paling indah. Perlu kita sadari dan fahami, tidak ada yang bisa memprediksikan kehidupan. Jika bisa memilih, Shoko mungkin tidak ingin dilahirkan sebagai Putri seorang Yakuza dengan segala stigma negatifnya. Sangat menarik mengimajinasikan bagaimana pengalaman hidup Shoko, menjadikannya sebagai sosok yang jauh lebih baik secara perlahan tapi pasti.

Shoko Tendo, merupakan sosok wanita yang terlahir dengan segala efek negatif orang tuanya, yang mencoba untuk bangkit dan memperoleh berbagai perubahan kehidupan dengan bercermin pada pengalaman.

Oleh: david ganda silalahi | Januari 22, 2009

Kekuasaan dan Penguasaan Sumber Daya Alam

picture1Buku ini hadir untuk menjawab semakin tinggi dan mendesaknya kebutuhan terhadap referensi yang memberikan gambaran holistik melalui perspektif antropologi tentang pengelolaan sumber daya alam, khususnya mengenai kekuasaan dan penguasaan timah di Pulau Bangka.

Dalam buku ini diperlihatkan bahwa struktur sosial dalam aktivitas penambangan timah di Bangka merupakan jalinan hubungan kekuasaan yang terjadi antara pelaku yang didasari atas kekuatan dan kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing pelaku untuk memaksimalkan manfaat ekonomi dari sumber daya timah yang ada di wilayah tersebut. Jalinan hubungan kekuasaan yang didasari atas kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh pelaku ini merupakan jalinan hubungan saling memanfaatkan dan saling ketergantungan (interdependensi) yang secara terus menerus direproduksi dan dimantapkan dalam konteks ruang dan waktu.

Buku yang diadaptasi dari disertasi ini memberikan kajian etnografi dari sebuah komuniti yang berada di dalam wilayah perusahaan sebagai satu kesatuan masyarakat yang lebih luas, berikut juga dengan sistem politik yang berkembang di dalamnya. Gambaran tentang kondisi penguasaan timah semenjak zaman pra penjajahan hingga pasca krisis moneter yang dilengkapi dengan jejaring kepentingan antara aktor yang terlibat di dalam sebuah sistem politik yang terus berkembang telah menunjukkan bagaimana penguasaan timah tersebut dimanfaatkan untuk melanggengkan penguasaan ekonomi dan kedudukan di Pulau Bangka.

Kemampuan buku ini dalam memberikan gambaran tentang penguasaan timah dari sudut pandang emik (orang dalam), akan sangat berguna bagi para pengusaha untuk dapat meneliti terlebih dahulu kondisi kehidupan komuniti baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun budaya yang dimiliki untuk nantinya diberdayakan dalam rangka pelaksanaan pemberdayaan komuniti oleh perusahaan.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori