“goodbye Blackbird”
Film ini dimulai pada tahun 1933 ketika John Dillinger (Johnny Depp) dibawa ke Penjara Negara Bagian Indiana oleh mitranya John “Red” Hamilton (Jason Clarke), yang menyamar sebagai seorang petugas pengirim tahanan. Dillinger dan Hamilton berhasil menyergap beberapa penjaga dan membebaskan anggota komplotan mereka termasuk Charles Makley (Christian Stolte) dan Harry Pierpont (David Wenham). Penjebolan penjara ini hampir-hampir berhasil tanpa rintangan, sampai salah satu anggota komplotan, Ed Shouse (Michael Vieau), memukul seorang penjaga sampai mati. Baku tembak terjadi ketika komplotan itu melarikan diri. Kawan dan mentor Dillinger, Walter Dietrich (James Russo) terbunuh, dan Dillinger yang murka menendang Shouse keluar dari mobil. Komplotan yang tersisa melarikan diri ke sebuah rumah pertanian, di mana seorang polisi East Chicago, Indiana yang korup, Martin Zarkovich (John Michael Bolger), membujuk mereka untuk bersembunyi saja di Chicago, dan berlindung di bawah Mafia.
Di East Liverpool, Ohio, Melvin Purvis) (Christian Bale) dan beberapa agen FBI lainnya mengejar Pretty Boy Floyd (Channing Tatum). Purvis membunuh Floyd dan dipromosikan oleh J. Edgar Hoover (Billy Crudup), yang sedang berjuang untuk mengembangkan Bironya menjadi sebuah agensi polisi nasional, sebagai pemimpin tim pemburuan John Dillinger, dan mengumumkan “Perang terhadap Kejahatan” pertama kalinya secara nasional.
Dalam sebuah rentetan perampokan bank, Dillinger bertemu dengan Billie Frechette (Marion Cotillard), yang ditaksirnya, di sebuah restoran, dan berusaha merayunya dengan membelikannya sebuah mantel bulu binatang. Frechette jatuh hati kepada Dillinger, sekalipun Dillinger telah memberitahunya mengenai siapa dia sesungguhnya, dan keduanya dengan segera tak terpisahkan lagi.
Melvin Purvis memimpin sebuah penyergapan ke sebuah hotel yang dikiranya didiami oleh Dillinger, namun penyergapan itu gagal. Seorang agen ditembak dan terbunuh oleh seorang penghuni. Setelah mereka melarikan diri, Dillinger menyadari bahwa pembunuh itu bukanlah Dillinger, tetapi Baby Face Nelson (Stephen Graham). Setelah insiden ini, Purvis meminta Hoover untuk membawa para penegak hukum yang tahu bagaimana menangkap para penjahat hidup atau mati, termasuk “koboi” Texas, Charles Winstead (Stephen Lang).
Polisi akhirnya menemukan Dillinger dan menahannya beserta komplotannya di Tucson. Purvis tiba malam itu dan berbicara singkat dengan Dillinger; Dillinger berusaha untuk membingungkan Purvis dengan membicarakan mengenai agen yang dibunuh oleh Nelson. Dillinger diserahkan kembali ke Indiana, dan ditahan di sana untuk menunggu pengadilan. Dillinger dan beberapa tahanan berhasil melarikan diri. Dillinger tidak dapat menemui Frechette yang diawasi secara ketat. Dillinger kemudian mengetahui bahwa kelompok mafia Chicago Outfit di bawah Frank Nitti (Bill Camp) sudah tidak mau lagi membantunya. Kejahatan Dillinger telah menyebabkan pemerintahan Amerika Serika untuk mulai mengusut kejahatan lintas negara bagian, dan mulai mambahayakan bagi usaha perjudian Nitti yang menguntungkan.
Belakangan, Dillinger bertemu dengan rekannya sesama perampok bank Tommy Carroll (Spencer Garrett) di sebuah bioskop film; yang sedang bersama-sama Ed Shouse, yang mau untuk bergabung kembali dengan komplotannya. Carroll mendorong Dillinger untuk merampok bank di Sioux Falls, dan menjanjikan bagian besar. Walau Baby Face Nelson, yang tidak disukainya, turut juga dalam perampokan ini, Dillinger setuju untuk ikut. Baku tembak (yang dipicu akibat Nelson menembak seorang polisi di luar bank) terjadi dan Dillinger tertembak di tangan. Carrol juga tertembak dan ditinggalkan karena sekarat. Mereka mundur ke pondok Nelson yang tersembunyi di tengah hutan di Little Bohemia. Di tempat itu luka-luka Dillinger diobati. Komplotan itu kecewa karena hasil rampokan mereka hanya sebagian kecil saja dari harapan. Dillinger mengharapkan untuk dapat membebaskan sisa komplotan mereka yang masih di penjara, termasuk Pierpont dan Makley, tapi Red meyakinkan dia bahwa hal itu hampir tidak memungkinkan.
Purvis dan para anggotanya menahan Carroll (yang masih hidup) dan menyiksanya untuk mengetahui di mana tempat komplotan itu bersembunyi. Mereka tiba di Little Bohemia dan lagi-lagi penyergapan itu gagal, sementara beberapa orang sipil tewas dalam baku tembak. Dillinger dan Red terpisah ketika menyelamatkan diri dari Nelson dan seluruh komplotannya. Agen Winstead dan Hurt (Don Frye) berlari mengejar Dillinger dan Hamilton di tengah pepohonan, dan turut dalam baku tembak itu. Red tertembak dan terluka parah. Dalam usaha untuk melarikan diri, Nelson, Shouse, dan Homer Van Meter (Stephen Dorff) membajak sebuah mobil FBI, membunuh beberapa agen, termasuk mitra Purvis, Carter Baum (Rory Cochrane). Setelah pengejaran dengan mobil, Purvis dan anggotanya berhasil membunuh Nelson dan sisa komplotannya. Sementara itu, Dillinger dan Hamilton mencuri mobil seorang petani dan berhasil melarikan diri. Hamilton tewas malam itu dan Dillinger menguburkannya dan menyembunyikannya di bawah bahan kimia.
Dillinger berhasil menemui Billie, memberitahukan rencana-rencananya untuk melakukan perampokan terakhir yang akan dapat membiayai mereka untuk melarikan diri bersama. Dillinger mengantarnya ke sebuah hotel yang dikiranya aman, namun ia tak berdaya ketika melihat Billie ditangkap FBI. Seorang interogator yang kasar, Agen Harold Reinecke (Adam Mucci), memukuli Billie dengan ganas untuk mengetahui keberadaan Dillinger, tapi Billie menolak berbicara. Purvis dan Winstead tiba dan dengan marah menghentikan interogasi yang kejam itu. Sementara itu, Dillinger bertemu dengan Alvin Karpis (Giovanni Ribisi), yang ingin merekrut Dillinger ke dalam komplotannya, Barker Gang, untuk merampok kereta api, namun Dillinger tidak tertarik. Dillinger menerima sebuah surat dari Billie melalu pengacaranya, Louis Piquet (Peter Gerety), yang memberitahunya agar tidak berusaha melepaskan Billie dari penjara.
Melalui si polisi korup Zarkovich, Purvis mendapat bantuan seorang mucikari sekaligus kenalan Dillinger, Anna Sage (Branka Katic), setelah mengancamnya dengan deportasi jika Sage tidak mau bekerja sama. Sage setuju untuk menjebak Dillinger, yang saat itu sedang bersembunyi di tempat Sage.
Malam itu, Dillinger dan Sage menonton sebuah film yang diperankan oleh Clark Gable berjudul Manhattan Melodrama di Biograph Theater. Ketika film usai, Dillinger dan Sage pergi dari bioskop itu dan Purvis mendekati mereka. Dillinger menyadari ada polisi (yaitu Reinecke, yang memukuli kekasih Dillinger) dan tertembak beberapa kali sebelum ia dapat mengambil senjatanya untuk melawan Reinecke yang melukai Billie. Agen Winstead, yang menembakkan tembakan terakhir yang fatal, mendengarkan kata-kata terakhir Dillinger.

HE LOVED HER LIKE THERE WAS NO TOMMOROW

Saat Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (
Karena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas. Ron Howard sepertinya juga tak mau mengulang kesalahan yang terjadi pada THE DA VINCI CODE dan menghilangkan unsur romantis yang sebelumnya sempat dikritik karena tak ada chemistry antara
Buku ini merupakan karya sastra yang menjadi cerminan problematika masyarakat. Buku ini memiliki daya hipnotis yang akan menggiring kita masuk pada dunia Fyodor Dostoyevsky. Pemaparan dalam buku ini juga cukup berani dan lantang dalam melagukan kalimat sehingga memperoleh predikat karya terbaik untuk karya eksistensialisme yang pernah ditulis. Dengan mengemukakan sosok tokoh yang dalam keadaan yang putus asa dan pikiran yang sangat ekstrem, dimana menyatakan keberjarakannya pada para kaum utopis radikal (sosialis dan komunis) yang ingin mengakhiri perbudakan dan korupsi untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik. Buku ini mengkritik kegemaran manusia pada sistem dan deduksi abstrak. Kegemaran itu begitu kuat pada diri manusia Rusia masa itu sehingga manusia siap mengubah kebenaran ataupun mengingkari bukti yang masuk akal hanya untuk membenarkan logikanya. Bahkan, ketakutan bahwa projek pembangunan ekonomi Barat tidak hanya menindas kebebasan atas nama akal dan kemajuan, tetapi juga mengakhiri sejarah keberadaan manusia. Buku ini menjadi sangat layak untuk dibaca, mengingat karya ini memberikan pemaknaan dan pemahaman yang luar biasa tentang psikologi manusia serta analisis yang mendalam mengenai keadaan politik, sosial, dan spiritual.
Fyodor adalah anak kedua dari tujuh bersaudara yang dilahirkan dari Mikhail dan Maria Dostoyevsky. Tak lama setelah ibunya meninggal karena tuberkulosis pada 1837, ia dan saudaranya Mikhail dikirim ke Akademi Teknik Militer di St. Petersburg. Ayah mereka, seorang ahli bedah militer yang sudah pensiun, yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Mariinsky untuk orang-orang miskin di Moskwa, meinggal pada 1839. Meskipun tidak diketahui sebabnya, orang yakin bahwa Mikhail Dostoyevsky dibunuh oleh petani-petaninya sendiri, yang konon menjadi marah ketika Mikhail mabuk dan kemudian melakukan kekerasan. Dostoyevsky dikirim ke Akademi Teknik Militer St. Petersburg dan karena ia tidak begitu pandai dalam matematika, mata pelajaran yang dibencinya, ia pun tidak berhasil baik di sekolah itu. Sebaliknya, ia lebih memusatkan perhatian pada sastra. Tokoh pujaannya adalah Honore de Balzac dan pada 1843 ia bahkan menerjemahkan salah satu karya terbesar Balzac, Eugenie Grandet ke dalam bahasa Rusia. Sekitar waktu ini Dostoyevsky mulai menulis fiksinya sendiri dan pada 1846, karyanya yang pertama, sebuah novel pendek dalam bentuk surat, Orang-orang Miskin, mendapatkan sambutan hangat, khususnya oleh kritikus liberal, Vissarion Belinsky, dengan pujiannya yang termasyhur, “Seorang Gogol yang baru telah muncul!” Dostoyevsky ditangkap dan ditahan pada 23 April 1849 karena terlibat dalam kegiatan revolusioner melawan Tsar Nikolai I. Pada 16 November tahun itu ia dijatuhi hukuman mati karena kegiatan anti pemerintahan yang terkait dengan sebuah kelompok intelektual liberal, Lingkaran Petrashevsky. Setelah sebuah pura-pura dihukum mati — matanya ditutup dan ia diperintahkan berdiri di luar di udara dingin sambil menunggu untuk ditembak mati oleh sebuah regu tembak, hukuman Dostoyevsky diubah menjadi beberapa tahun dikirim ke pembuangan untuk bekerja paksa di sebuah kamp penjara katorga di Omsk, Siberia. Epilepsinya yang telah lama diidapnya, kian meningkat selama masa ini. Ia dibebaskan dari penjara pada 1854, dan diwajibkan melayani di Resimen Siberia. Dostoyevsky menghabisi lima tahun berikutnya sebagai seorang kopral (dan belakangan letnan) di dalam Barisan Batalyon Resimen ke-7 yang ditempatkan di benteng Semipalatinsk di Kazakhstan. Ini adalah titik balik dalam kehidupan pengarang ini. Dostoyevsky meninggalkan gagasan-gagasan idealnya semula dan menjadi seorang Kristen dan penentang keras nihilisme dan sosialisme ateis. Ia belakangan menjalin persahabatan yang aneh dengan pengarang konservatif, Konstantin Pobedonostsev. Ia mulai menjalin hubungan, dan belakangan menikah dengan Maria Dmitrievna Isaeva, janda seornag kenalannya di Siberia. Pada 1860, ia kembali ke St. Petersburg, dan di sana ia menulis sejumlah jurnal sastra yang gagal dengan kakaknya, Mikhail. Dostoyevsky sangat terpukul oleh kematian istrinya pada 1864, diikuti tak lama kemudian oleh kematian saudaranya. Dari segi keuangan ia menjadi lumpuh karena utang bisnisnya dan keharusan membiayai janda kakaknya serta anak-anaknya. Dostoyevsky tenggelam dalam suatu depresi yang mendalam, seringkali mengunjungi tempat judi dan terus-menerus kalah. Dalam tahun-tahun terakhirnya, Fyodor Dostoyevsky tinggal lama di resor Staraya Russa yang lebih dekat ke St Petersburg dan lebih murah daripada resor-resor Jerman. Ia meninggal pada 28 Januari (O.S.), 1881 karena pendarahan paru-paru yang disebabkan oleh serangan epilepsi. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Tikhvin di Biara Alexander Nevsky, St. Petersburg, Russia. Empat puluh ribu orang Rusia meratapi dan menghadiri penguburannya.
Upaya yang dilakukan selama ini adalah dengan “men-daratkan” masyarakat suku Bajau. Mereka diupayakan untuk hidup didarat dengan memiliki rumah ataupun kebiasaan seperti masyarakat lainnya. Bahkan tidak sedikit elemen yang mendiktekan masyarakat Bajau untuk beralih profesi dari nelayan menjadi petani dengan asumsi bahwa pertanian merupakan sektor yang lebih menjanjikan. Masyarakat Bajau diarahkan bahkan dipaksa untuk mengubah sejarah dan kebiasaan hidup mereka.
Terlahir sebagai sorang putri Yakuza merupakan suatu kenyataan yang berbalut pahit dan manis. Shoko Tendo, harus mengalami berbagai pergulatan dalam kehidupan sosialnya. Berawal dari ketidakterimaan linggkungan social terhadap keberadaannya, Shoko Tendo akhirnya menjerumuskan diri pada dunia “hitam”. Apa pun yang menjadi piihannya, dilakukan karna ia menyukainya dan merasakan ada kenyamanan serta kedamaian.
Buku ini hadir untuk menjawab semakin tinggi dan mendesaknya kebutuhan terhadap referensi yang memberikan gambaran holistik melalui perspektif antropologi tentang pengelolaan sumber daya alam, khususnya mengenai kekuasaan dan penguasaan timah di Pulau Bangka. 