Dastan, an orphan in the Persian Empire, performs an act of courage in a public market place and is adopted by the king because of it. Fifteen years later, Dastan, his royal-blooded foster brothers, Tus (Richard Coyle) and Garsiv (Toby Kebbell), and his uncle, Nizam (Ben Kingsley) are planning an attack on the sacred city of Alamut, which is believed to be selling weapons to Persia’s enemies. Despite his doubts as to whether they should attack a sacred city and his orders to avoid the front-line of the fighting, Dastan leads a surprise attack that succeeds in allowing the Persian army to breach the walls of Alamut. In the confusion, the princess of Alamut, Tamina, instructs one of her guards to take a dagger from a shrine to safety. During the fight, however, Dastan defeats this guard, and steals the dagger. Alamut falls to the Persians and Tamina is captured. In order to pacify the captured city, Tus suggests that he and Tamina marry, which she agrees to only upon seeing that the dagger has fallen into Dastan’s possession.
When Sharaman (Ronald Pickup), the king of Persia, arrives at Alamut, he reproaches Tus, his eldest son, for having made the decision to attack the city and although proud of Dastan, chides him for not doing the right thing, as he did before. He suggests that Dastan, rather than Tus should marry Tamina. Prince Dastan unknowingly presents a poisoned robe, given to him by Tus, to his father, who dies upon donning it. Dastan is blamed for the king’s murder and flees Alamut with Princess Tamina. In their first camp, Tamina attempts to kill the prince and recover the dagger, during which Dastan finds out that the dagger can reverse time. During their journey, the duo meet a shady ostrich racing-organizer and tax-averse entrepreneur, Sheik Amar (Alfred Molina), with his knife-throwing African friend Seso (Steve Toussaint). Dastan offers Tamina up as a slave in return for supplies; however, Amar betrays him because he recognizes him as the murderer of the king, for whom there is an “obscene” reward being offered. Dastan and Tamina escape and return to Persia for King Sharaman’s funeral; here, Dastan attempts to convince his uncle Nizam that he did not kill his father. Dastan discovers that Tamina has taken the Dagger; however, he then notices Nizam’s hands are burned. Garsiv and the city guards appear and attack Dastan and he is forced to escape.
Dastan catches up with Tamina and explains that the villainous brother of the King, Nizam, was behind the murder. Once Tamina finally explains everything about the Dagger, Dastan realizes why Nizam wants the Dagger of Time: to use it with the massive Sandglass to go back in time and undo saving Sharaman from a lion so he could become king. He fabricated the false allegations that Alamut had been dealing weapons to Persia’s enemies so that he would have the opportunity to search the city for the Sandglass. However, opening the Sandglass will trigger an apocalyptic sandstorm that would end the world. Meanwhile, Nizam tries to convince Garsiv and Tus Dastan is trying to overthrow them and should be killed immediately; when this fails, he hires the Hassansins, a group of highly skilled warriors who once served as hired killers for Persian royalty, to slay Dastan.
Dastan and Tamina are again captured by Sheik Amar and Seso, seeking to rebuild his ruined business by turning them in for the enormous bounty. But that night, when everyone is asleep, the Hassansin leader (Gísli Örn Garðarsson) attacks the group by controlling a number of vipers. Many of the group die, but Dastan uses the Dagger and manages to kill all the snakes and saves everyone. The next day, the pair accompanied by Sheik and Seso travel to the secret sanctuary in the mountains near India, where it is possible to seal away the Dagger. However, they run into Garsiv’s men. Dastan manages to persuade his brother that he is innocent, only for Garsiv to be fatally wounded by a Hassansin. The Hassansins attack, killing most of the group, and their leader manages to snatch the Dagger of Time from Tamina. However, Dastan is saved from the last Hassansin by Garsiv, who then dies of his wounds.
The group returns to Alamut to reveal the truth about Nizam and the Dagger to Tus. Dastan confronts Tus and explains the Dagger’s mechanics to him and then kills himself; Tus brings Dastan back to life by rewinding time and realises his brother has been innocent all along. Soon after, however, Nizam arrives and kills Tus, leaving his Hassansin guard to kill Dastan. The Dagger is once again in Nizam’s hands, but Dastan manages to defeat the Hassansin with Tamina’s help. Nizam goes to the Sandglass caves beneath Alamut, as Dastan and Tamina take a more secret route. After a short battle with the Hassansins’ leader, fatally wounding him and sending him plummeting to his death in a chasm, Dastan and Tamina kiss. They then reach Nizam before he can pierce the Sandglass with the Dagger, but he knocks Tamina and Dastan over the edge. Dastan grabs hold of Tamina; knowing he cannot stop Nizam and save her, Tamina professes her love for Dastan and lets go, plummeting to her death and sacrificing herself to stop Nizam. Driven to fight on, Dastan manages to pull himself up. Nizam stabs the Sandglass with the Dagger, but Dastan grabs a hold and opens the Dagger, rather than activating it, causing the Sands of Time to flow through freely. Time reverses to when Dastan first obtained the Dagger, now fully aware of all that has occurred.
Dastan stops the siege of Alamut, revealing Nizam’s treachery; Nizam attacks Dastan, but is killed by Tus. After apologizing for the ransacking of her city, Tus suggests that perhaps Tamina should become Dastan’s wife as a sign of good will. The Prince returns the Dagger of Time to her. Later on, the two take a walk together, and Dastan and Tamina have a small conversation, in which Dastan hints at his knowledge of the Dagger’s powers and tells Tamina that he looks forward to a future with her.

Film ini dimulai pada tahun 1933 ketika
Purvis dan para anggotanya menahan Carroll (yang masih hidup) dan menyiksanya untuk mengetahui di mana tempat komplotan itu bersembunyi. Mereka tiba di Little Bohemia dan lagi-lagi 
HE LOVED HER LIKE THERE WAS NO TOMMOROW

Saat Leonardo Vetra, salah seorang ilmuwan yang bekerja di CERN, terbunuh, di dadanya terlihat sebuah tanda yang mengarah pada sebuah persaudaraan yang diduga telah musnah. Kematian yang tak wajar ini membuat para ilmuwan di CERN terpaksa harus menghubungi pakar simbol Robert Langdon (
Karena keterbatasan waktu juga maka film ini jadi terasa bertempo sangat cepat. Tak ada waktu untuk menarik nafas atau beristirahat sejenak. Ini tak bisa dihindari juga karena versi novelnya juga punya tempo yang lumayan cepat meski masih ada titik-titik di mana kita diberi waktu untuk sekedar menghela nafas. Ron Howard sepertinya juga tak mau mengulang kesalahan yang terjadi pada THE DA VINCI CODE dan menghilangkan unsur romantis yang sebelumnya sempat dikritik karena tak ada chemistry antara
Buku ini merupakan karya sastra yang menjadi cerminan problematika masyarakat. Buku ini memiliki daya hipnotis yang akan menggiring kita masuk pada dunia Fyodor Dostoyevsky. Pemaparan dalam buku ini juga cukup berani dan lantang dalam melagukan kalimat sehingga memperoleh predikat karya terbaik untuk karya eksistensialisme yang pernah ditulis. Dengan mengemukakan sosok tokoh yang dalam keadaan yang putus asa dan pikiran yang sangat ekstrem, dimana menyatakan keberjarakannya pada para kaum utopis radikal (sosialis dan komunis) yang ingin mengakhiri perbudakan dan korupsi untuk mendirikan masyarakat yang lebih baik. Buku ini mengkritik kegemaran manusia pada sistem dan deduksi abstrak. Kegemaran itu begitu kuat pada diri manusia Rusia masa itu sehingga manusia siap mengubah kebenaran ataupun mengingkari bukti yang masuk akal hanya untuk membenarkan logikanya. Bahkan, ketakutan bahwa projek pembangunan ekonomi Barat tidak hanya menindas kebebasan atas nama akal dan kemajuan, tetapi juga mengakhiri sejarah keberadaan manusia. Buku ini menjadi sangat layak untuk dibaca, mengingat karya ini memberikan pemaknaan dan pemahaman yang luar biasa tentang psikologi manusia serta analisis yang mendalam mengenai keadaan politik, sosial, dan spiritual.
Fyodor adalah anak kedua dari tujuh bersaudara yang dilahirkan dari Mikhail dan Maria Dostoyevsky. Tak lama setelah ibunya meninggal karena tuberkulosis pada 1837, ia dan saudaranya Mikhail dikirim ke Akademi Teknik Militer di St. Petersburg. Ayah mereka, seorang ahli bedah militer yang sudah pensiun, yang bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Mariinsky untuk orang-orang miskin di Moskwa, meinggal pada 1839. Meskipun tidak diketahui sebabnya, orang yakin bahwa Mikhail Dostoyevsky dibunuh oleh petani-petaninya sendiri, yang konon menjadi marah ketika Mikhail mabuk dan kemudian melakukan kekerasan. Dostoyevsky dikirim ke Akademi Teknik Militer St. Petersburg dan karena ia tidak begitu pandai dalam matematika, mata pelajaran yang dibencinya, ia pun tidak berhasil baik di sekolah itu. Sebaliknya, ia lebih memusatkan perhatian pada sastra. Tokoh pujaannya adalah Honore de Balzac dan pada 1843 ia bahkan menerjemahkan salah satu karya terbesar Balzac, Eugenie Grandet ke dalam bahasa Rusia. Sekitar waktu ini Dostoyevsky mulai menulis fiksinya sendiri dan pada 1846, karyanya yang pertama, sebuah novel pendek dalam bentuk surat, Orang-orang Miskin, mendapatkan sambutan hangat, khususnya oleh kritikus liberal, Vissarion Belinsky, dengan pujiannya yang termasyhur, “Seorang Gogol yang baru telah muncul!” Dostoyevsky ditangkap dan ditahan pada 23 April 1849 karena terlibat dalam kegiatan revolusioner melawan Tsar Nikolai I. Pada 16 November tahun itu ia dijatuhi hukuman mati karena kegiatan anti pemerintahan yang terkait dengan sebuah kelompok intelektual liberal, Lingkaran Petrashevsky. Setelah sebuah pura-pura dihukum mati — matanya ditutup dan ia diperintahkan berdiri di luar di udara dingin sambil menunggu untuk ditembak mati oleh sebuah regu tembak, hukuman Dostoyevsky diubah menjadi beberapa tahun dikirim ke pembuangan untuk bekerja paksa di sebuah kamp penjara katorga di Omsk, Siberia. Epilepsinya yang telah lama diidapnya, kian meningkat selama masa ini. Ia dibebaskan dari penjara pada 1854, dan diwajibkan melayani di Resimen Siberia. Dostoyevsky menghabisi lima tahun berikutnya sebagai seorang kopral (dan belakangan letnan) di dalam Barisan Batalyon Resimen ke-7 yang ditempatkan di benteng Semipalatinsk di Kazakhstan. Ini adalah titik balik dalam kehidupan pengarang ini. Dostoyevsky meninggalkan gagasan-gagasan idealnya semula dan menjadi seorang Kristen dan penentang keras nihilisme dan sosialisme ateis. Ia belakangan menjalin persahabatan yang aneh dengan pengarang konservatif, Konstantin Pobedonostsev. Ia mulai menjalin hubungan, dan belakangan menikah dengan Maria Dmitrievna Isaeva, janda seornag kenalannya di Siberia. Pada 1860, ia kembali ke St. Petersburg, dan di sana ia menulis sejumlah jurnal sastra yang gagal dengan kakaknya, Mikhail. Dostoyevsky sangat terpukul oleh kematian istrinya pada 1864, diikuti tak lama kemudian oleh kematian saudaranya. Dari segi keuangan ia menjadi lumpuh karena utang bisnisnya dan keharusan membiayai janda kakaknya serta anak-anaknya. Dostoyevsky tenggelam dalam suatu depresi yang mendalam, seringkali mengunjungi tempat judi dan terus-menerus kalah. Dalam tahun-tahun terakhirnya, Fyodor Dostoyevsky tinggal lama di resor Staraya Russa yang lebih dekat ke St Petersburg dan lebih murah daripada resor-resor Jerman. Ia meninggal pada 28 Januari (O.S.), 1881 karena pendarahan paru-paru yang disebabkan oleh serangan epilepsi. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Tikhvin di Biara Alexander Nevsky, St. Petersburg, Russia. Empat puluh ribu orang Rusia meratapi dan menghadiri penguburannya.